![]() |
| Suasana Memanas di Sosialisasi Penempatan dan Perlindungan PMI, Peserta Soroti Dugaan Ketidaktransparanan Dana Transport |
Revolution Bima. — Kegiatan Sosialisasi Penempatan dan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia yang digelar pada Kamis (11/12/2025) pukul 14.00 WITA di Aula Kampus Taman Siswa Bima (TAMSIS) berlangsung panas setelah munculnya dugaan ketidaktransparanan dalam pembagian uang transportasi peserta.
Acara yang dihadiri ratusan mahasiswa dari berbagai kampus dan organisasi kepemudaan (OKP) itu awalnya berjalan lancar. Tiga pemateri, termasuk delegasi dari Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), menyampaikan materi di tengah tingginya antusiasme peserta yang memenuhi ruangan.
Namun, suasana berubah ketika sejumlah mahasiswa menyoroti praktik yang dianggap menyalahi etika. Berdasarkan informasi lapangan, mahasiswa yang baru tiba diarahkan panitia untuk langsung menandatangani daftar hadir sekaligus lembar penerimaan uang transportasi senilai Rp150.000 per orang.
Ketegangan meningkat setelah panitia mengumumkan bahwa pembagian uang transport akan dilakukan terpisah berdasarkan kelompok OKP. Dalihnya untuk menjaga ketertiban mengingat jumlah peserta yang membludak. Namun, proses pembagian justru menimbulkan masalah besar.
Meski peserta telah menandatangani penerimaan Rp150.000, sejumlah mahasiswa mengaku menerima jumlah berbeda. Ada yang mendapat Rp100.000, sebagian lagi Rp50.000, bahkan ada peserta yang hanya menerima Rp37.000. Perbedaan mencolok ini memicu gelombang protes dari peserta.
Adi Anggarana, salah satu mahasiswa yang hadir, melontarkan kritik keras. Ia menuding adanya praktik tidak etis bahkan menyebut dugaan “konspirasi busuk” dalam pengelolaan dana transportasi tersebut. Menurutnya, tindakan itu menunjukkan “keterpurukan moral dan tidak mencerminkan nilai-nilai akademisi.”
Hingga berita ini diturunkan, panitia pelaksana maupun pihak kampus belum memberikan klarifikasi resmi terkait perbedaan jumlah uang transportasi yang diterima peserta. Para mahasiswa berharap persoalan ini segera ditindaklanjuti agar tidak mencoreng tujuan utama kegiatan yang bertujuan memberikan edukasi mengenai penempatan dan perlindungan pekerja migran. (RV. Angga)
