Dugaan Mediasi Bermuatan Uang, Kepala SLB "Y'' Diduga Dalang di Balik “Skenario Damai” -->

Header Menu

Dugaan Mediasi Bermuatan Uang, Kepala SLB "Y'' Diduga Dalang di Balik “Skenario Damai”

Minggu, 02 November 2025

Dugaan Mediasi Bermuatan Uang, Kepala SLB Y Diduga Dalang di Balik “Skenario Damai”


Revolution Dompu. – Dunia pendidikan di Dompu kembali diguncang bau anyir dugaan suap yang menusuk hidung publik. Kali ini, aroma busuk itu menyeruak dari balik tembok sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB) yang seharusnya menjadi rumah bagi nilai-nilai kejujuran dan keteladanan.


Rekaman percakapan yang bocor ke tangan wartawan, menguak fakta mencengangkan: seorang Kepala SLB berinisial Y diduga menjadi otak di balik upaya “mediasi damai” yang ternyata berbalut amplop tebal. Skenario rapi pun disusun, lengkap dengan akan di adakan pertemuan rahasia dan membahas “uang pelicin” untuk membungkam pemberitaan.


Informasi internal yang dihimpun Revolution Dompu menyebut, Y menyiapkan dana hingga Rp5 juta per orang untuk “melunakkan” lima wartawan agar berhenti mengulik kasus yang menyeret yayasannya. Ironisnya, skema ini dilakukan atas nama “musyawarah”, padahal yang terjadi justru jual-beli keheningan.


Uang yang diminta itu sangat banyak. Kami jadi bingung dan tidak tahu harus berbuat apa,” ungkap AR, Kepala SLB Trisila Skill, dengan suara bergetar saat dikonfirmasi, Sabtu (1/11/2025).


Sumber lain menyebut, lokasi mediasi disepakati secara diam-diam dan dijaga ketat dari pantauan publik. Tujuannya satu: menutup rapat-rapat aib sebelum mencuat ke permukaan. Namun rencana itu justru terbongkar dan berbalik jadi bumerang.


Gelombang kemarahan datang bukan hanya dari kalangan pendidikan, tapi juga komunitas jurnalis Dompu. Banyak yang mengecam keras praktik kotor tersebut, menyebutnya sebagai bentuk “pemerkosaan etika profesi dan penghinaan terhadap dunia pendidikan.”


Hingga berita ini diterbitkan, Y belum memberikan klarifikasi resmi. Didatangi ke sekolah Nya tidak ditemui, namun kabar keterlibatannya makin panas, terutama setelah beberapa nama wartawan dari wilayah Woja, Desa Bara, dan Dompu disebut dalam rekaman percakapan yang kini beredar di kalangan terbatas.


Publik kini menuntut langkah tegas dari aparat penegak hukum. Jika dugaan ini benar, maka praktik “mediasi beraroma uang” tersebut bukan hanya pelanggaran moral, tapi bukti nyata bagaimana amplop bisa membungkam idealisme dan mengotori bendera pendidikan.


Dunia pendidikan seharusnya mencetak generasi berintegritas, bukan menelurkan aktor skandal yang lihai mengatur “skenario damai” demi menutupi borok sendiri.


Revolution Dompu akan terus menelusuri jejak uang dan mencari kebenaran di balik drama “damai berbayar” yang kini jadi perbincangan hangat di setiap sudut Dompu siapa ke 5 Wartawan disebut. (RV 01)